MARAH

Banyak yang tidak menyadari bahwa marah itu dosa, dengan alasan marah manusiawi, marah boleh asal pada tempat.
Padahal yang namanya manusiawi itu tidak dosa!

Lapar itu manusiawi, haus itu manusiawi, cape itu manusiawi, betul!

Marah? Ya dosa !

kita tidak rela mengganti persepsi karena tujuan kita masih kesenangan (bukan kebahagiaan), karena itu kita tidak selalu mau ikut dalam aturan-Nya,

Tidak sadar kita merubah2 Al Quran (marah boleh)!

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang- orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran/3 : 133-134)

*Ada seorang lelaki datang kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah berilah aku nasihat; Maka Rasulullah bersabda;”Jangan marah!” Kemudian dia mengulanginya beberapa kali, maka Rasulullah bersabda,”jangan marah!”.(HR.Bukhari).

Pemahaman yang salah:

Sabar ada batasnya…dimana batasnya? 

Marah boleh asal pada tempatnya…dimana tempatnya?

Itulah kalau mencari kebenaran karena terjebak kesalahan.

Bagaimana dengan “tegas”?

Ketegasan itu bagus, syaratnya tidak mengandung emosi.

Ingat, kita hidup adalah ibadah, ibadah harus bebas dari nafsu.

Alasan marah untuk mendidik?.

Coba pikir mana yang lebih baik , mendidik dalam keadaan marah atau tenang?

Menjalankan amar ma’ruf nahi munkar?

Apakah Rasulullah saw menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dengan marah2?

Apakah dengan tidak marah2 berarti nabi tidak sungguh2? 

Sungguh2 menyampaikan kebenaran bukan berarti harus menghakimi, memaksa, menyindir maupun marah. 

Kebenarannya adalah : marah itu berdosa. Marah itu hawa nafsu. Marah itu syetan.

Memang kebenaran itu pahit, tapi harus diakui dan dijalani.

Ukuran kebenaran bukan kelogisan atau kata hati, melainkan tidak bertentangan dengan “buku pedoman”.

Al Quran adalah ukuran kebenaran.(QS 4;59,QS 45;15).

Sebagai buku pedoman hidup tentunya Al Quran tidak hanya sekedar dibaca, tapi haruslah dimengerti dan dirasakan kebenarannya.

Sebuah kebenaran ada barometer yaitu Al Quran & Hadits. Selogis apapun argumentasinya, bila tidak sesuai dengan Al Quran dan Hadits sudah pasti salah.

“Marah”..jelas bertentangan dengan Al Quran.

Allah memerintahkan kita untuk sabar, juga memberikan janji surga bagi yang menahan marah.

Rasulullah tidak pernah marah dalam menghadapi manusia dan ujian Allah.

Apa penyebab marah?

Marah penyebabnya karena kita merasa ada sesuatu yang tidak wajar menimpa kita, tapi kalau dirasa wajar pasti ngga marah.

Bagaimana cara nabi saw ngga marah? Rasulullah saw menganggap orang2 yang jahat pada beliau itu WAJAR seperti itu, karena mereka ngga tau nabi itu siapa,dll.

Nah, cara jitu tidak marah adalah; menganggap segala sesuatu itu wajar.

Sebenarnya, manusia itu sedikit yang berbuat salah, yg keliru adalah persepsinya.

Ingat sabda Rasulullah saw,”Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka akan baik seluruh perilakunya. Bila daging itu buruk akan buruk seluruh perilakunya. Daging itu bernama kalbu”.

Jadi bila ada orang yang perilakunya pemarah, berarti isi kalbunya (tentang marah) tidak selaras Al Quran.

Jangan kesal pada orangnya, jangan kesal pada perilakunya, tapi kesal lah pada persepsinya (isi kalbu).

Dengan begitu kita akan “selamat”, tidak ada ayat yang kita langgar…tidak membenci orangnya, tidak menggunjingkan dia, tidak menyakiti dia. Sebab aku yakin dosa ditanggung masing2.

Lihatlah orang bukan dari tindakannya, tapi lihatlah niatnya.
Kalau kita marah, apa yang terjadi?

1.Suasana jadi rusak, kebahagiaan jadi hilang, bukan saja kita tapi juga orang lain.

2.Marah membutuhkan energi yang kuat sehingga banyak sel2 syaraf yang rusak, makanya banyak yang sakit.

Jadi artinya marah ini lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya.

Nabi saw mengatakan kalau lebih banyak mudaratnya, tinggalkan.

Allah berfirman dalam Al Quran, orang yang menahan marah maka surga ganjarannya.

Jadi kalau kita mengumbar marah maka ganjarannya….?

Keyakinan2 yang harus aku milik untuk menilai sesuatu itu jadi kewajaran, adalah :

– Anak adalah titipan.

– hidup untuk diuji.

– fakta dari Allah pasti baik, dll.

Janganlah menjadi orang yang rugi, yaitu orang yang merasa paling benar padahal dia keliru. Dengan tidak merasa paling benar, aku bisa mempergunakan waktu dan kesempatan yang diberikan Allah Swt di sisa2 usia dengan terus menerus memperbaiki diriku.

Bila hari ini lebih buruk dari kemarin; CELAKA!

Bila hari ini sama dengan kemarin; RUGI!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s