MENGASURANSIKAN KEGAGALAN

Dulu saya diajari oleh coach Samsul Arifin tentang 1 hal yang masih terkenang hingga kini, yaitu Go Extra Miles.

Kalau orang lain melakukan dengan 1 cara, maka kita harus mengambil komitmen lebih, yakni melakukan dgn 10 cara atau 100 cara.
Hanya inilah satu-satunya cara bagi kita untuk mengasuransikan kegagalan.
Jualan olshop? Tawarkan 100 barang sekaligus, alih-alih 1 barang. Mending iklankan 100 barang dengan masing2 barang iklan $1 ketimbang 10 barang dgn masing-masing $10.
Blogger? Bikin 100 artikel per hari selama 30 hari di dalam 1 niche. Gempor? Ya pasti. Namanya asuransi, harus dibayar dong preminya.
MLM? Prospek 100 daftar nama dalam 1 bulan, kenalan 5 orang baru tiap hari. Capek? Inget, ini sedang asuransi.
Banyak yang tanya kesana kemari rumusnya sukses, tapi dari observasi saya terhadap orang sukses, yang paling mencolok hanya ini.
Mari kita mulai dari Eka Bagus. Saya pernah ngintip produk jualannya, mungkin bisa disebut ratusan. Budget iklan puluhan hingga ratusan juta. Jangan tanya gagalnya berapa kali, katanya pernah 1 klik = Rp 9 Juta. Dia pernah berpetuah ngalor ngidul tentang alasan gagal seseorang dalam iklan fb. Setelah sy pahami, rangkumannya ada di kalimat ini: “The greatest enemy of great life is a good life”. Banyak yang nyaman jalan di tempat sehingga malas untuk terus berinovasi hingga akhirnya digilas yang lain.
Kemudian sebut saja Samian Pacing. Tanya berapa website yang dia buat dalam kurun waktu bisnis online. Berapa produk yang dia tawarkan. Ribuan. Tanya jumlah VPS nya dan tagihannya tiap bulan. Bikin melongo. Setiap ngobrol dengan dia, saya selalu kagum. Dari seorang yang mulai hidup dari pelosok Kalimantan sebagai tukang kayu (ini cerita sebenarnya), hingga akhirnya ber-aset miliaran dari bisnis online, tentu ini tidak dimulai dari iseng-iseng alakadarnya.
Lalu tanya Agan Khalid. Berapa banyak produk yang dikelola, berapa banyak adset yang dimainkan. Jangan tanya, dijamin pusing deh. Dikira enak main olshop. Keunggulannya adalah dia tekun mengkapitalisasi ilmu yang sudah dia miliki sehingga ilmu sederhana bisa jadi miliaran. Literally, milyaran. Gak mudah tergiur dengan screenshot orang lain, bisa berakibat positif menambah earning kita, itu kata dia.
Sekarang tanya Reza Mandalagiri. Sudah pernah tau batasnya jumlah campaign dalam 1 akun fb ads? Nah om satu ini akun fbnya sdh pernah mentok. Kebayang berapa campaign. Jangan tanya adsetnya ya. Dia salah satu top seller Teespring Asia Tenggara 2015 lalu. Berani main di levelnya dia? Tidak ada kompetisi yang berarti kalau sudah main ribuan kali lebih besar dari orang lain.
Tanya Aola Audico. Berapa ratus orang yang bergabung dalam batalyon nya. Full senjata dari segala lini. Gak percaya, datang aja ke Tegal. Saya sudah lihat dengan mata kepala sendiri orang dengan penghasilan nyaris M per bulan, “hanya” dari internet.
Tanya siapapun di muka bumi ini yang kelihatan di mata Anda sebagai orang sukses. Jawabannya tetap sama, Go Extra Miles. Lakukan lebih dari orang lain.
Jadi kalau kita masih belum puas terhadap diri sendiri hari ini, tips paling sederhana dari mereka semua yang saya sebut di atas, sekali lagi, lakukan lebih.

MENIKAH : SENI MENGALAH

Beberapa pekan jelang menikah, saya yang kala itu masih berusia 22 tahun, meguru pada ibu. Apa yang perlu dilakukan agar pernikahan berjalan damai?
Ibu menjawab tanpa berpikir panjang. Seolah pertanyaan yang saya ajukan se sepele resep sayur lodeh.
“Nikah ki yo anggere wani ngalah..” (Nikah itu pokoknya berani mengalah)
Dua kata yang menggedor batin saya: BERANI dan MENGALAH
Kata BERANI biasanya disandingkan dengan hal yang berat, bahkan horor. “Berani mati” misalnya. Tapi ibu menyandingkan kata itu dengan MENGALAH. Saya mulai memahaminya sebagai tugas berat, yang tidak semua orang mau dan mampu menjalankannya.
Mengalah
Dan ini yang pada akhirnya saya jumpai, lalu saya pelajari dari lelaki yang sejak 18 tahun lalu saya dapati memiliki kepribadian baik.
Saat pernikahan masih serba kekurangan, dia akan lebih dulu mengambil piring plastik agar saya bisa menggunakan piring beling.
Saat anak belum lulus toilet training, dia yang akan bangun di tengah malam untuk menatur si kecil, padahal yang anak panggil saat itu adalah ibunya.
Saat makan di luar, dia akan makan dengan terburu-buru agar bisa cepat bergantian menggendong si kecil. Demi kuah bakso di mangkok saya tidak keburu dingin.
Saat mendapati satu bacaan yang menarik, dan saya tertarik, dia akan mengangsurkan bacaan itu. “Bacalah lebih dulu. Aku sudah selesai”
Saat memasak dan jumlah masakan itu terbatas. Bukan saya yang menyisihkan untuk bagiannya, tapi dia yang akan mengambilkan lebih dulu untuk saya, dalam jumlah yang lebih banyak darinya. “Aku sudah kenyang..” dan saya tahu itu bohong.
Saat ada sepotong roti, dia akan membaginya tidak sama besar. Tapi saya yang lebih besar. “Kamu kan menyusui. Butuh lebih banyak kalori..” dan kami akan berdebat panjang, lalu diakhiri dengan saya tidak akan memakan bagian yang besar itu sampai dia tarik kembali agar beratnya sepadan.
Saat saya akan memakai kamar mandi belakang (yang ukurannya lebih kecil dari kamar mandi depan) dia yang sedang berada di kamar mandi depan segera keluar dan meminta saya menempatinya. “Aku di belakang aja. Nanti kamu kaget kalau banyak kecoa..”
Saat saya marah, meski kemarahan itu tidak masuk akal, dia yang mendekat, mengangsurkan tangan dan meminta maaf. Padahal masalah sebenarnya pun belum terang ia cerna.
Ini akhlak. Ini ngalah. Dan ini cinta
Entah bagaimana caranya dia tidak bosan mengalah, dan tidak pula berdendang “Mengapa s’lalu aku yang mengalah..”
Enteng saja dia menjalani itu. Ikhlas saja. Senang-senang saja. Tapi dampaknya sangat besar buat saya.
Apa itu? Penghormatan, penghargaan, dan respek.
Untuk segi kematangan emosional, saya tertatih-tatih di belakangnya. Marah dan mau menang sendiri, selalu menjadi bagian saya.
Tapi sikap ngalah yang dia tunjukkan, lambat laun jadi mematangkan emosi itu. Sekaligus membuat saya juga jadi ingin mengalah. Ngalah untuk tidak memancing sikap ngalahnya, yang saya rasa sudah berlebihan dia beri pada saya.
Ya..ya.. pernikahan memang selaiknya menjadi hubungan yang take and give. Saling memberi saling menerima. Saling menutupi dan memahami. 
Tentu jika hanya satu pihak saja yang terus mengalah, dan pihak yang lain memanfaatkan sikap ngalah itu, kedamaian hanya jadi angan. Karena pasti ada bom waktu di balik sikap ngalah itu.
Namun mengalah adalah seni untuk memenangkan hati pasangan. Dan pasangan yang baik (baca: tahu diri) pasti akan menyambut sikap ngalah ini dengan suka cita, kesyukuran, lalu menghargai usaha dari pasangannya.
Mungkin ini yang membuat ibu menjawab “ngalah” sebagai kunci kedamaian berumah tangga.
***
Dan kini saya pun bertanya padanya, si lelaki pengalah itu. “Mengapa kamu selalu mengalah padaku?”
Jawabannya sederhana saja. Se-sederhana resep sayur lodeh:
“Aku tidak pernah merasa ngalah. Yang aku lakukan hanyalah menjaga agar kita tidak pernah terpecah belah..”

SOLUSI PINJAMAN TANPA RIBA BERBASIS KOMUNITAS DAN SILATURAHMI

Ini bukan arisan yaa.. catet, bukan arisan. Kalau denger acara kumpul bareng bakal terbersit “waaa pasti ada arisannya nih!” Kapan dapetnya bergilir nunggu bertahun-tahun.. sampai ngampet hehe

Silaturahmi membuka pintu rejeki.. 

Bener banget tuh, orang yang setiap hari bertemu dengan banyak orang, kemana-mana punya teman, pas butuh gampang banget ada yang membantu. Beda dengan yang setiap hari hanya nongkrong di kamar aja, gak gaul.. Sekali punya masalah kelimpungan gak kenal siapa-siapa..
Berikut langkah-langkahnya,

1. Kumpulkan 10 orang yang akan menjadi anggota Kelompok Permodalan (PokDal). Jangan asal comot, pilih anggota yang sevisi, yang punya komitmen dan track record yang bagus. Kalau semua statusnya punya usaha, maka harus terbukti usahanya eksis dan berjalan. Lebih bagus kalau anggota semuanya tinggal di satu kota agar intens pertemuannya.

2. Bikin group WA atau Telegram yang jadi tempat kumpul online. Jadikan tempat untuk mastermind bisnis juga. Kalau ada acara kumpul bersama di rumah salah satu anggota dia yang menjamu, kalau kumpul di satu tempat makan, bayar sendiri-sendiri. Biasakan mandiri dan gak cari gratisan!

3. Pilih seorang ketua, bendahara dan sekretaris. Bergilir misal tiap tahun ganti kepengurusan.

4. Bikin satu rekening bersama, yang bisa diakses oleh semua anggota. Dalam 24 jam dana terpantau bersama.

5. Bikin kesepakatan, dari 10 orang ini tiap bulan ada simpanan wajib. Nilainya di sepakati. Bisa 200 ribu, 500 ribu, atau 1 juta. Nilainya harus sama, semakin besar semakin bagus, asal tidak memberatkan anggota lainnya.

6. Misal contoh 1 orang simpanannya disepakati 1 juta/bulan. Maka dalam 1 bulan terkumpul 10 juta, 2 bulan ada 20 juta, 3 bulan 30 juta, 4 bulan 40 juta, 5 bulan 50 juta dan seterusnya..

7. Bikin aturan main, hanya anggota PokDal yang boleh meminjam dana. Kebutuhan dana juga ditentukan: untuk modal usaha jangka pendek dan untuk pinjaman darurat. Tidak boleh dana dipinjamkan untuk kebutuhan konsumtif, misalnya beli motor baru atau HP baru..

8. Pinjaman Modal Jangka Pendek (PinMoJaPe) diberikan kepada anggota untuk modal bisnis dalam waktu maksimal 2 bulan. Akadnya bisa pinjam tanpa bagi hasil (pinjam 10 juta dalam sebulan kembalikan 10 juta juga), atau dengan meminjam modal akad syirkah mudharobah (bagi hasil) 30% dari total keuntungan. Jadi misal ada anggota menggunakan dana 10 juta untuk mengerjakan sebuah proyek, dalam waktu dua bulan untung 5 juta.. Maka yang 1,5 juta diberikan bagi hasilnya ke Pokdal, modal yang 10 juta juga dikembalikan. Asetnya nambah kan jadinya.
Kalau rugi? 

Jika rugi karena bukan kelalaian pengguna maka dana dianggap total hilang dan kerugian ditanggung bersama semua anggota.

Jika rugi karena kelalaian pengguna, bisa disepakati modal dikembalikan dalam bertahap, tentu tanpa bunga, tanpa denda, tanpa provisi, tanpa pinalti. 

Ini harus disepakati bersama, peminjam pun wajib berkomitmen agar usahanya bener-bener dikelola dengan baik agar tidak merugi. Proposalnya harus jelas dengan perhitungan yang matang untuk didiskusikan di group PokDal itu. 

Positifnya adalah anggota tidak “nggampangke” (aaah dapat modal nih, kalo rugi kan modal dianggap hilang!) Naaah mental kayak gini yang bakal merusak PokDal. Ada sisi positif untuk bertanggungjawab penuh.

9. Pinjaman Darurat (PinDar) bisa diberikan untuk anggota jika butuh dana kesehatan, misal keluarga ada yang sakit butuh dana 3 juta, maka dana dipinjamkan dan diberi kesempatan 1 bulan untuk mengembalikan. Bisa juga uang hasil usaha dari mudharobah tadi dikumpulkan, jika ada anggota yang darurat bisa diberikan sebagian sebagai santunan.

10. Jika seluruh anggota berkomitmen dan tertib, dalam setahun 120 juta uang terkumpul, belum dari hasil mudharobah tadi. Makin lama makin banyak dana yang tersimpan.

11. Jangan menambah anggota di tengah jalan, bukan bank atau koperasi yang berlomba menambah nasabah dan anggota. Pegang komitmen 10 orang ini agar tidak ribet dalam pengelolaannya.

12. Jika ada anggota yang mulai tidak komit, pertemuan gak pernah datang, selalu pasif, atas kesepakatan bersama maka anggota tersebut bisa ditawarkan untuk mengundurkan diri. Kembalikan semua uang yang sudah dia simpan. Total 100 % tanpa bunga, denda atau potongan.

13. Jika mau mencari anggota pengganti agar genap lagi 10 orang, maka anggota baru tersebut harus memiliki visi yang sama, jangan asal comot, dan bersedia untuk menyimpan pinjaman yang kalau ditotal sama dengan anggota lama.

14. Jika ini bisa tertib, dalam 5 tahun PokDal ini akan punya dana senilai 600 juta, dalam 10 tahun ada 1,2 Milyar dan terus diputar kepada 10 anggotanya. Terus dan terus membesar!

15. Bayangkan jika disatu kota ada ratusan bahkan ribuan PokDal, saling support, saling bantu, saling mendoakan.. Ini keren! Gak ada yang terjerumus kepada pinjaman riba atau bahkan ke rentenir jalanan yang bunganya nyekek leher bikin sesek di dada.

16. Bisa disepakati juga, tiap tahun 10% dana yang terkumpul disedekahkan untuk modal kerja duafa di luar anggota, bisa juga untuk anak-anak panti asuhan dibuatkan usaha. Biar Pokdal ini juga punya kemanfaatan bagi masyarakat sekitar.

17. Berani mencoba? Mulai sekarang berburu anggotanya. Jangan terburu-buru, lihat latar belakangnya, kalau perlu datangi tempat usahanya, wawancara tentang visi hidupnya. Jelaskan aturan mainnya.

18. Jangan lupa berdoa, bersedekah juga dimuka, minta pada Allah dipertemukan dengan orang-orang yang sevisi agar bisa maju bersama di PokDal ini.

Aturan tambahan dan revisi bisa dibahas bersama di masing-masing PokDal, yang saya tulis hanya acuan saja. Silahkan dikembangkan sendiri dengan kelompoknya. Biar makin lengkap dan memenuhi keinginan semua anggota.

Semoga setahun lagi atau 5 tahun lagi sudah buanyak PokDal-PokDal mandiri yang berdiri di berbagai wilayah. Dengan nama-nama yang bebas dipilih sendiri, eksis bareng tanpa merugikan, tanpa menjatuhkan.

Berjamaah itu membuat kuat..