Seputar Fiqh di Kala Mudik

 Berikut ini adalah hal yang sering ditanyakan (FAQ) masyarakat awam selama mudik. 
Tanya jawab ini berfokus pada jawaban, bukan pembahasan, sehingga bentuknya ringkas dan praktis untuk yang butuh jawaban segera. 
📚 Disusun oleh tim Relawan Literasi, dan sebagai narasumber adalah ustadz Farid Nukman Hasan 📚
Semoga bermanfaat 🤗

📝 Kewajiban apa saja yang diringankan ketika dalam perjalanan?
👳🏻 Shalat bisa dijamak dan atau diqashar, puasa bisa dibatalkan diganti di hari lain, shalat bisa di kendaraan jika tidak mungkin singgah.
📝 Apa pengertian sholat jamak dan qashar?
👳🏻 Jamak adalah menggabung dua waktu shalat dalam satu waktu, yaitu zuhur dan ashar, juga maghrib dan isya. Subuh tidak ada jamak.
Qashar adalah meringkas shalat yang empat rakaat; seperti zuhur, ashar, dan isya menjadi dua rakaat. Subuh dan maghrib tidak bisa diqashar
📝 Apa perbedaan jamak dan qashar?
👳🏻 Jamak disebabkan oleh masyaqqat (kesulitan/kepayahan/kesempitan) jika dikumpulkan semua dalil maka seperti sakit, takut dengan orang kafir, kesibukan yang sangat, hujan deras, safar, sedang menuntut ilmu syar’i, bahkan nabi pernah sedang di rumah, tidak sakit, tidak hujan, beliau menjamak shalat. Tapi, ini hanya boleh dilakukan sesekali saja, sebagaimana penjelasan ulama. Saat safar, jamak boleh dilakukan sebelum berangkat.
Qashar disebabkan oleh safar saja, dan dilakukannya hanya boleh jika sudah berangkat dan sudah keluar dari daerah asal.
📝 Perjalanan sejauh apa agar diperbolehkan menjamak atau mengqashar sholat?
👳🏻 Imam Ibnul Mundzir mengatakan ada lebih 20 pendapat tentang ini. Tapi, yang paling umum dianut oleh ulama sejak masa sahabat nabi adalah jika sudah 4 Burud, yaitu sekitar 88Km.
📝 Apakah boleh menjamak/qashar sholat karena alasan macet?
👳🏻 Macet, jika menghasilkan masyaqqat (kesulitan/kepayahan/kesempitan) maka boleh jamak shalat. Ada pun qasharnya tergantung jarak yang sudah ditempuh.
📝 Mana yang lebih afdhal, menjamak/qashar sholat atau sholat seperti biasa ketika dalam perjalanan?
👳🏻 Jika syarat-syarat sudah terpenuhi maka mengambil keringanan untuk jamak dan qashar lebih utama diambil. Sebab itu adalah karunia dari Allah Ta’ala bagi umatnya.
📝 Apa hukumnya sholat duduk di atas kendaraan?
👳🏻 Boleh, jika memang tidak memungkinkan untuk turun singgah. Sebab Nabi pernah melakukan dan juga para sahabat juga pernah melakukan.
📝 Bagaimana bila terjebak macet dan tak sempat sholat berdiri, boleh sholat sambil duduk?
👳🏻 Boleh, jika memang tidak mampu berdiri, baik karena sakit, atau karena posisi yang sulit berdiri secara normal. Fattaqullaha mastatha’tum – bertaqwalah kepada Allah semampu kamu…
📝 Mana yang lebih afdhol, tetap berpuasa atau berbuka ketika dalam perjalanan?
👳🏻 Jika dia kuat melanjutkan puasa, maka lebih baik dia puasa saja. Tapi, jika dia tidak kuat atau lemah, maka lebih baik berbuka saja. Nabi pernah melakukan keduanya dalam safarnya, Beliau pernah puasa, pernah juga berbuka.
📝 Orang yang tetap berpuasa saat berpergian, misal dari Aceh ke Surabaya, dan ia sahur saat masih di Aceh, apakah berbukanya harus mengikuti waktu Aceh atau Surabaya?
👳🏻 Ikuti waktu dimana dia berada, jika saat sahur di aceh, maka ikuti waktu Aceh. Jika saat berbuka sedang di Surabaya maka ikut waktu di Surabaya, bukan di Aceh.
📝 Saat terjebak macet, bolehkah tayamum dengan debu yang ada di jok mobil?
👳🏻 Boleh, baik debu yang ada di jok, dinding, tanah, dan benda suci lain yang terdapat debu.
📝 Apakah boleh berwudhu menggunakan air mineral? Harus berapa liter?
👳🏻 Boleh, air mineral berasal dari air sungai atau pegunungan, suci dan mensucikan. Proses penyulingan atau pemurnian tidak mengubah hukum tersebut.
📝 Boleh tidak sholat sambil duduk di samping penumpang lain yang berlainan jenis kelamin?
👳🏻 Sebaiknya tidak tidak demikian, tapi jika tidak memungkinkan dan tidak sampai bersentuhan tidak apa-apa. Atau, bisa juga menjamak saja jika sidah sampai di tujuan
📝 Apakah sholat boleh di-qodho’?
👳🏻 Boleh, khususnya pada shalat-shalat wajib yang baru saja ditinggalkan. Sebab Nabi dan para sahabatnya seperti Umar r.a., pernah melakukan. Tapi qadha terjadi karena ketiduran dan lupa, bukan saat terjaga dan sengaja. Ada pun jika qadhanya adalah shalat-shalat yang sudah lama ditinggalkan bertahun-tahun, maka ulama beda pendapat. Sebagian mesti qadha, dengan mengitung semampunya jumlah shalat yang ditinggalkan lalu dia shalat sebanyak-banknya untuk itu. Ulama lain mengatakan tidak ada qadha untuk yang seperti itu, tapi banyak-banyak shalat sunnah, istighfar dan banyak taubat.
📝 Bila pakaian terkena najis dan tak sempat diganti dalam perjalanan, tetap lakukan sholat atau diqodho’ saja?
👳🏻 Bersihkan saja, kucek-kucek sampai bersih, baik dengan air atau pasir, debu, yang bisa mensucikan. Jika tidak mungkin juga bisa dijamak ta’khir saat sampai tujuan.
📝 Apakah muntah termasuk najis?
👳🏻 4 madzhab menyatakan najis, tapi mereka berbeda dalam sifat zat muntah seperti apa yang najis itu.
📝 Bolehkah buang air kecil di semak-semak saat terjebak macet?
👳🏻 Pada dasarnya tidak boleh, sebab nabi melarang keras buang hajat di jalan tempat manusia lalu lalang dan tempat manusia berteduh. Tapi, jika kondisinya seperti yang ditanyakan, maka bisa kencing di botol lalu istinja dengan tisue, kalau tidak bisa juga maka kencing di semak adalah pilihan terakhir. Kaidahnya: Idza dhaqqa ittasa’a – jika keadaan sulit dan sempit maka dilapangkan.
📝 Bagaimana cara berwudhu yang hemat air?
👳🏻 Bisa membasuh yang wajib saja, wajah, kepala, tangan sampai siku, kaki sampai mata kaki.
📝 Selama di kampung apakah sholat boleh dijamak/qashar?
👳🏻 Boleh, qashar saja, tanpa jamak. Jamak boleh lagi dilakukan jika ada masyaqqat (kesulitan) di sana. Nabi pernah qashar 20 hari di Tabuk, beberapa sahabat nabi ada yang qashar 6 bulan, 1 tahun, bahkan 2 tahun, itu dilakukan dengan syarat tidak berniat jadi penduduk tetap di situ.
📝 Apa hukum ziarah kubur?
👳🏻 Sunah, dan bisa dilakukan kapan saja
📝 Apa hukum membaca Qur’an saat ziarah kubur?
👳🏻 Khilafiyah ulama, antara yang membolehkan seperti Imam Asy Syafi’i dalam riwayat Abu Bakar Al Khalal dalam kitab Al Quraah fil Qubuur, juga Imam Ahmad bin Hambal seperti yg disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir, dan Imam Ibnul Qayyim dalam Ar Ruuh. Sementara ulama lain memakruhkan seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.
📝 Apa yang harus dilakukan saat ziarah kubur?
👳🏻 Ucapkan salam, membuka alas kaki jika memungkinkan, mendoakan, dan dzikrul maut, ini disepakati anjurannya. Sedangkan yang diperselisihkan seperti membaca Al Quran, menyiram air, dan meletakkan pohon di kubur.
Yang dilarang adalah meninggikan kubur melebihi sejengkal, meratap, dan meminta-minta kepada penghuni kubur.
📝 Apa hukumnya memanfaatkan jasa penukaran uang di pinggir jalan, yang mana uang yang dikembalikan ke kita jumlahnya lebih kecil daripada uang yang kita berikan?
👳🏻 Itu terlarang. Tampaknya “penukaran”, tapi itu adalah membeli uang pakai uang. Ini terlarang. Kalau pun mau dikatakan penukaran, juga terlarang. Yaitu merupakan riba nasi’ah: pertukaran barang sejenis dengan adanya nilai lebih. Ini haram juga.
📝 Bila sedang puasa sunnah (puasa syawal) dalam suasana lebaran, lalu silaturahim ke rumah saudara dan di sana di suguhi makanan, apakah harus dibatalkan puasa sunnahnya?
👳🏻 Bebas memilih, lanjutkan puasa atau batalkan. Untuk puasa sunnah, kata nabi, kita adalah rajanya. Batalkan silakan, lanjutkan juga bagus.
📝 Apakah memungkinkan mencari malam lailatul qadar bila sedang dalam perjalanan?
👳🏻 Lailatul Qadar adalah milik siapa pun yang beribadah saat itu. Baik sedang i’tikaf, safar, di rumah sakit, di rumah saja, yang penting dia ibadah saat itu. Baik shalat sunnah, tilawah, dan dzikir. Jadi, I’tikaf bukan syarat untuk mendapatkan Lailatul Qadar. 

Selamat mudik. Syariat Islam tidak untuk memberatkan kita. Tapi sebagai sarana menghamba kepada Allah SWT.😊

Advertisements

AKHIRNYA ISLAM RUNTUH

Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.

Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal. 
Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?
Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.
Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Ambisi selanjutnya adalah menaklukan  Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,
*“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?*
*Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.*
*Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”*
Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.
Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.
Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum’at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.
JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H
Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.
*“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah,,,,,Azza wa Jalla.”*
Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat  berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan. 
Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan. 
Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik “hit and run” dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.
Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.
Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol. 
Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.

Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras, 
*”Demi Islam!..Demi Islam!”* 
Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.
Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.
Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.
Lalu. Bagaimana dengan kita? Di penghujung Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di sepanjang hidup kita? 
Ramadhan adalah bulan perjuangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia, serta banyak peperangan terjadi di bulan ini termasuk perang Ain Jalut. Maka bukan kebetulan juga jika kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan pada hari jum’at 9 Ramadhan.
Selain bulan perjuangan,Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith). 
Semoga cerita tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara.

Salam spektakuler!

Archan The Revolutionist

Hedonic Treadmill

Pertanyaan : 
Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan arti / fungsi / peran uang dalam membentuk kebahagiaan ?

Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama :

” hedonic treadmill ”.

Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : 

Saat gajimu 5 juta, semuanya habis. 
Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh… semua habis juga. Kenapa begitu ? 
Karena harapan / ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. 
Dengan kata lain, nafsumu untuk membeli materi / barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-mu. 
Itulah kenapa disebut hedonic treadmill : 

Seperti berjalan di atas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju !!!
Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan.
Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. 
Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.
Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. 
Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. 
Ada eksperimen menarik :
Seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah. 
Apa yang terjadi ? 
6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.
Itulah efek hedonic treadmill.
Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill ? 
Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berujung ?
Terapkan lah gaya hidup yang bersahaja !!! 
Sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.
Mengubah orientasi hidup !!! 
Makin banyak berbagi, semakin banyak memberi kepada orang lain, teruji justru semakin membahagiakan…!!!
Bukanlah banyak mengumpulkan materi yang membuat kebahagiaanmu terpuaskan !!!
When enough is enough. 
Kebahagiaan itu kadang sederhana misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga, tersenyum memulai hari hari, berbagi peduli memberi makna dan manfaat terhadap sesamanya, menyapa dan mengasih berbagi rejeki ke tukang sampah, lanjut membaca “makanan” spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas berdzikir, berbakti untuk agama, keluarga, bangsa dn negara, maka betapa indahnya hidup ini !!!
Selamat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya Saudara2ku dan Sahabat2ku serta Temen2ku.
“ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu ”

” Sampai kamu masuk ke dalam kubur ”

” Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).”

(QS al-Takâtsur [102]: 1-3).
” Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir ”

” Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia semakin kikir ”.

(QS al-Mârij [70] : 19-21). 
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : 
“ Kekayaan itu bukanlah lantaran banyak harta bendanya, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan jiwa dan ketentraman jiwa “.

(HR al-Bukhari). Insya Allah bermanfaat..

Tulisan mantan Rektor ITB, Prof. Akhmaloka

IBLIS ITU TIDAK ATEIS, IBLIS ITU MONOTEIS.

Gus Dur : “Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam.”
Santri : “Maksudnya senior apa, Gus?”

Gusdur : “Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa.”

Santri : “Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?”

Gus Dur : “Iblis itu dulu nya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam.”

Santri : “Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara- garanya, aku jadi miskin kayak gini.”

Gus Dur : “Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi.”

Santri : “Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?”

Gus Dur : “Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).

Santri : “Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?”

Gus Dur : “Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi.”

Santri : “Aneh.”

Gus Dur : “Kok aneh? Apanya yang aneh?”

Santri : “Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan.”

Gus Dur : “Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat.”

Santri : “Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?”

Gus Dur : “Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak.”

Santri : “Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?”
Gus Dur : “Dua-duanya.”
Santri : “Kok dua-duanya?”
Gus Dur : “Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan.”
Santri : “Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus.”
Gus Dur : “Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat.”
Santri : “Ooh…”
Gus Dur : “Jadi intinya begitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong.”
Santri : “Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?”
Gus Dur : “Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu.”
Santri : “Masa sih, Gus?”
Gus Dur : “Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok.”
Santri : “Terus, kesalahan terbesar dia apa?”
Gus Dur : “Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran.”
Santri : “Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh.”
Gus Dur : “Siapa? Ente?
Santri : “Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid’ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh.”
Gus Dur : “Wah, persis Iblis tuh.”
Santri : “Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya.”
Gus Dur : “Siap mati, tapi tidak siap hidup.”
Santri : “Bedanya apa, Gus?”
Gus Dur : “Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama.”
Santri : “Lho, kok begitu?”
Gus Dur : “Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga.”
Santri : “Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?”

Gus Dur : “Pinter kamu, Kang!”

Santri : “Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur.”

Brief tadabbur of the Quran,1 juz a day with Ustadh Nouman Ali Khan

If you’re planning to Read & Understand Quran this Ramadan but don’t have enough time to go through the entire text and translation then spare some time & listen to the short explanation of some verses from each Juz per day. It will hardly take 5-10mins!

Juz 1: 

Juz 2: https://www.youtube.com/watch?v=gWZDVYom3RE
Juz 3: https://www.youtube.com/watch?v=wFsYnwI6zEA
Juz 4: https://www.youtube.com/watch?v=h2kwFI7bKi0
Juz 5: https://www.youtube.com/watch?v=9C6QyjX53cg
Juz 6: https://www.youtube.com/watch?v=KVh-W6CjIOc
Juz 7: https://www.youtube.com/watch?v=tXsMMj7m9tQ
Juz 8: https://www.youtube.com/watch?v=6NFo35g7zo8
Juz 9: https://www.youtube.com/watch?v=2i80milYJAc
Juz 10: https://www.youtube.com/watch?v=RlKDxmw466Y
Juz 11: https://www.youtube.com/watch?v=Btsvfuu2eE4
Juz 12: https://www.youtube.com/watch?v=K1uQ1l4LQFE
Juz 13: https://www.youtube.com/watch?v=eThSNtJe7SY
Juz 14: https://www.youtube.com/watch?v=Vvn2WCO_zPg
Juz 15: https://www.youtube.com/watch?v=3xOK85qRQ_o
Juz 16: https://www.youtube.com/watch?v=WAwI1MvBViE
Juz 17: https://www.youtube.com/watch?v=x9nMCACgvqk
Juz 18: https://www.youtube.com/watch?v=y5YpDilwN04
Juz 19: https://www.youtube.com/watch?v=T_DMb8o32c8
Juz 20: https://www.youtube.com/watch?v=DzSDr5xiGIE
Juz 21: https://www.youtube.com/watch?v=0qAhT7MV0Fg
Juz 22: https://www.youtube.com/watch?v=bFUACCm25ok
Juz 23: https://www.youtube.com/watch?v=PKFc1o8Yvzk
Juz 24:https://www.youtube.com/watch?v=R6XHHcbcitI
Juz 25: https://www.youtube.com/watch?v=iLvV_1JT2Ik
Juz 26: https://www.youtube.com/watch?v=v_zrDh9Ny8g
Juz 27: https://www.youtube.com/watch?v=kvUU1g4i2bk
Juz 28: https://www.youtube.com/watch?v=xJRf_4tojx4
Juz 29: 

Juz 30: 

PS: Please forward and help your fellow Muslims to Understand some portion of Quran this Ramadan, inshaAllah.

Allah reward immensely the person who took the time to compose this message and us too for spreading something beneficial.

Tips lancar Jalani Shaum / Puasa

PAPD I(Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam)

Dari dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, KGer, FINASIM dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, memberikan *Tips lancar Jalani Shaum/Puasa* secara umum untuk seorang berusia lanjut dan juga semua kalangan.

Mudah2an bisa bermanfaat.

1. Saat *Sahur* usahakan untuk *membatasi asupan teh dan kopi* Pasalnya, dua asupan tsb membuat metabolisme berjalan cepat. Sehingga cepat mendatangkan rasa haus meski tak terdehidrasi.

2. Sangat *dianjurkan mengonsumsi makanan yang lambat dicerna dan memiliki serat yang tinggi* Contohnya gandum, padi-padian, kacang-kacangan, biji-bijian, nasi merah.

3. Saat *Tajjil/Awal berbuka puasa* dianjurkan untuk mengonsumsi *Kurma** karena mengandung gula serat, karbohidrat, kalium dan magnesium. Dengan kurma, kebutuhan nutrisi tubuh yang hilang selama puasa perlahan dipenuhi.

4. Mengonsumsi pisang saat *Ifthor/berbuka* sangat baik bagi tubuh Anda, sebab *pisang* merupakan sumber kalium, magnesium dan karbohidrat.

5. *Batasi makanan yang digoreng saat berbuka*, karena dapat meningkatkan sel-sel lemak dalam tubuh. Hal ini karena seorang yang sudah di usia lanjut cenderung memiliki keluhan penyakit yang disebabkan lemak, seperti penyakit jantung, cc koroner dan hipertensi.

6. *Batasi makanan yang lebih cepat dicerna, seperti gula*. Hal ini bisa cepat mendatangkan rasa haus ditengah Anda menjalani puasa nantinya.

7. *Konsumsi Air atau jus buah* antara berbuka puasa dan sebelum tidur. Hal ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan cairan dalam tubuh untuk Anda lancar beraktivitas esok harinya.

8. *Hindari terlalu banyak minum Es*, karena memudahkan Anda kenyang. Dimana asupan makanan gizi yang lengkap akan menurun karena tak bisa masuk dalam tubuh.

Selamat menunaikan ibadah Shaum dan ibadah lainnya di bulan Suci Ramadhan…. *Semoga diberi kelancaran, kesehatan dan khusyu’ serta ikhlas menjalankannya, Bertambah Iman Ilmu Amal yg bermanfaat… Aamiin YRA…🙏

HIDUP DALAM KONTEKS MEMBERI

 Dari penjara Banceuy-lah lahir sebuah pledoi “Indonesia menggugat”. Pledoi yang ditulis di atas kaleng yang berbau tak sedap, kaleng tempat buang hajat, satu-satunya perkakas yang bisa difungsikan sebagai meja di dalam penjara itu. Disitulah Soekarno ditahan pada awal-awal masa perjuangan, dan kemudian di atas kaleng yang setelah dibersihkan dialasi dengan tumpukan-tumpukan koran itulah Soekarno menuliskan pembelaan yang meninggalkan jejak hingga sekarang.Mengenai kaitannya pledoi itu dalam kajian sejarah indonesia, biarlah dikaji para sejarawan. Yang saya hendak tuliskan adalah satu fakta sederhana itu saja, bahwa saat seseorang hidup dalam konteksnya yang besar, yaitu konteks untuk memberi, maka orang itu akan bisa melampaui sensasi kedirian yang sempit.

Kita bisa menyepi ke gunung, melakukan tirakat spiritual yang ketat. Kita bisa puasa begitu dawam dan sholat dengan upaya yang keras untuk mencapai level yang menipiskan ruang ego, tetapi capaian ruhani yang membuat kita menjadi hilang keakuannya, saya baru sadari, ternyata ada pada kunci rahasia yang sederhana itu. Yaitu membiasakan hidup dalam konteks memberi.

Saat seseorang membiasakan hidup dalam konteks memberi, maka ruang ego di dalam dirinya menjadi mengecil, karena dia hidup dalam upaya membaikkan sekelilingnya. Saat keseluruhan hidupnya dipatri dalam cita-cita berkebaikan yang besar itu, maka ruang keakuan akan lama-lama hilang.

Dahulu saya bertanya-tanya, bukankah dalam skala tertentu berkebaikan untuk orang lain malah semakin menimbulkan keakuan diri? Belakangan barulah terjawab bahwa sesiapa yang dalam berkebaikan malah menimbulkan keakuan diri, berarti sebenarnya dia tidak hidup dalam konteks memberi.

Zahirnya dua orang boleh terlihat sama-sama berkebaikan, tetapi orang yang tidak dalam konteks memberi sejatinya dia menadahkan hatinya untuk meminta sumbangsih pengakuan dari orang lain. Maka orang itu sebenarnya meminta, bukan memberi.

Jika tak tumbuh dalam diri saya sendiri selain dari rasa sempit dan luka saat membantu orang lain, maka jangan-jangan saya sedang tidak memberi.

Sedangkan yang benar-benar memberi, dia akan melampaui ruang rasanya kerdil. Soekarno dalam penjara tidak memaki dirinya sendiri. Karena dia hidup dalam konteks wacana yang besar. Memberi.

Panglima Soedirman, misalnya. Dalam sakitnya tetap memimpin perang. Dia memberi.

Sayidina utsman bin Affan misalnya, membebaskan sumur Raumah untuk penduduk yang kesusahan air.

Dan sederet cerita orang-orang yang hidup dalam konteks memberi. Mereka melampaui ruang rasanya sendiri. Pencapaian yang mungkin didapatkan lewat tirakat berat dan panjang para spiritualis, rupanya dirangkum dalam sabda Sang Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam kaitannya dengan menipiskan ruang ego, memburamkan keakuan; inilah saya baru mengerti apa yang disebutkan para arifin.

Hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita mengerti bahwa yang berkebaikan adalah bukan kita sendiri. Karena kita hanya keran kebaikan, air yang mengalir itu bukan milik kita.

Dan hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita sadari bahwa sejatinya yang kita bantu adalah makhluq-Nya juga, yang dalam tanda kutip; lewat mata merekalah Tuhan inginkan agar diri-Nya dipandang. [1]

Jadi, cara yang cukup membantu menipiskan ruang ego adalah dengan berkebaikan pada orang lain. Cara yang ampuh, jika kita merasa sudah banyak tirakat tetapi masih merasa besar egonya. Lalu disitulah kita akan mengerti maksud orang-orang arif…..sesungguhnya siapa yang dibantu? Siapa yang membantu?

~~~
references
[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

Sumber: Rio Benny